Sebuah Opini Dari Kunjungan Langsung Ke Desa Sade

Oleh : Anugrah Ade Putra, S.Sos. Mahasiswa Pasca Sarjana STFI Sadra Jakarta 

SPOTSATU.COM ---- Dalam percakapan personal, maupun yang sering didengar di berbagai tempat, Anda mungkin sering mendengar istilah harga diri. Bahwa, harga diri adalah salah satu hal yang sangat patut untuk diperjuangkan dan tentu anda akan berusa berusaha menunjukkan pada orang lain, bahwa Anda memiliki harga diri yang tak boleh direndahkan.


Secara sederhana harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya kediriannya (Santrock:2010), kadang dinamakan martabat  atau gambaran diri. Sehingga setiap orang merasa perlu mendapatkan penghormatan, penghargaan bahkan di perlakukan secara etis, sebagai konsep yang penting dalam bidang moralitas, etika, hukum, dan politik, dan berakar dari konsep hak-hak yang melekat pada diri manusia dan tidak dapat dicabut dari kelangsungan hidup manusia.

Dalam ilmu psikologi, harga diri adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan nilai personal seorang individu, terhadap dirinya sendiri. Dalam arti kata, self-esteem merujuk pada cara Anda menghargai, mengapresiasi, dan menyukai diri sendiri.


Untuk itu penting kiranya membedakannya terlebih dahulu di awal   dengan percaya diri sehingga memberikan penjelasan yang tidak bias, pada percaya diri merujuk kepada  cara menyikapi  kemampuan yang dimiliki, sedang harga diri terbentuk dari pengalaman yang sudah ada. Sebagai contoh orang memiliki kepercayaan diri yang lebih akan melakukan berbagai macam hal yang anggapannya ia merasa bisa, walau kenyataanya tidak mengetahui apa yang sedang ia lakukan. Sehingga orang semacam ini akan naik tanpa persiapan dan turun tanpa penghormatan. Sebaliknya seseorang dengan  kepemilikan harga diri akan mempertimbangkan segala  tindakan yang di ambil apakah akan berdampak terhadap respon orang terhadapnya. Maka secara sederhana harga diri merupakan respon terhadap sikap orang lain terhadap individu , sedang percaya diri adalah reaksi individu terhadap orang lain.


Satu dari sekian aktualisasi dari harga diri dan percaya diri yang dapat dijadikan teladan adalah apa yanng coba di praktikan oleh masyarakat desa Sade. 


Desa Sade adalah Desa Tradisional Sasak atau yang biasa disebut dengan suku asli Pulau Lombok, berada di Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Sade dikenal sebagai desa yang masih mempertahankan adat suku Sasak (medcom.id:2020) Kemudian ditetapkan desa wisata oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 1989 (kliknusae.com:2019)

Konon desa ini telah ada sejak 600 tahun yang lalu dan masyarakatnya menganut ajaran Watte Telu, namun ajaran itu kini telah ditinggalkan dan semua masyarakatnya memeluk Islam. Desa Sade memiliki luas area 5,5 hektar.



Salah satu hal unik dari perwujudan harga diri dari masyarakat desa Sade  yakni menyikapi perselingkuhan yang terjadi  dalam suatu rumah tangga. rumah  tangga yang dibangun dengan susah payah yakni dengan melakukan pelarian bersama sang kekasih yang di awali perjanjian pertemuan di pohon jodoh kemudian secara bersama-sama kabur meninggalkan rumah beberapa hari kemudian kembali dan menyatakan keinginannya kepada pihak keluarga, atau melakukan drama penculikan kepada dedare  yang menarik perhatian  Tarune namun tidak memiliki hubungan asmara sebelumnya.



Apabila terjadi perselingkuhan maka jalan yang ditempuh adalah melakukan pembunuhan kepada pelaku perselingkuhan, oleh keluarga yang merasa keberatan atas kejadian tersebut. Perselingkuhan yang terjadi atas reaksi indvidu yang merasa benar dengan sikapnya menghianati pernikahannya, tanpa pernah memperdulikan kemudian  respon yang bakal terjadi dari masyakat atas tindakan yang mereka  lakukan.

Cara membunuhnya yakni dengan menghunuskan atau menikam menggunakan parang, alat ini digunakan sebab masyarakat desa Sade mayoritas petani yang sudah terbiasanya menggunakan alat tersebut dalam menyelesaikaan perkerjaannnya termasuk  menyelesaikan misi merebut harga diri.



Biasanya respon, sifatnya reaktif sebab  ia berangkat dari dari pengalaman yang sudah ada, tanpa merasa perlu menambah pengalaman lain dalam  mengambil tidakan menyikapi  sebuah perselingkuhan. Sebagai uraian, antara ama’dan ina’ ketahuan selingkuh, perbuatan  selingkuh adalah hal  buruk, dan dari pengalam yang ada kalau terjadi perselinguhan maka wajib kiranya dibunuh. Dalam melakukan pembunuhan tidak ada lagi kesempatan untuk memasukkan pengalaman lain berupa membunuh  melanggar HAM, membunuh akan dimasukkkan penjara, atau  membunuh akan memperpanjanng masalah dan semacamnya.



Lebih lanjut harga diri banyak di pengaruhi oleh: Alam bawah sadar, persepsi, dan pikiran, Usia, Keterbatasan fisik


Opini yang di ciptakan

Dimana, alam bawah sadar seperti yang kita ketahui jauh dari  sifat rasional dan lebih kepada kecenderungan manusia terhadap sesuatu, bagi sigmund freud alam bawa sadar di sebut sebagai ID yang berisi eros dan tanatos, namun merespon hal negatif maka otomatis tanatos lah yang bakal reaktif dengan segala sifatnya yakni gresif, destruktif, dan melahirkan sikap membenci serta tindak kekerasan berupa pembunuhan (wordpress:2009) Kemudian alam bawah sadar ini akan menekan perspektif negatif, sehingga segala upaya klaridfikasi yang dilakukan akan di anggap sebagai pembenaran, kemudian perspektif tersebut akan menekan untuk melahirkan argumentasi-argumentasi pembenaran atas sikap yang di tempuh.


Kemudian usia, masyarakat desa Sade yang keseluruhan menikah di usia muda tentu secara mental tentu masih masih labil, dan kelabilan itu tertutupi dengan segala tanggung jawab yang menghabiskann banyak waktu untuk mencari rezeki agar dapur tetap mengepul, sampai tiba waktunya kelabilan itupun kembali muncul dengan adanya masalah perselingkuhan.


Sedang keterbatasan fisiklah yang membuat masyakat desa Sade menggunnakan parang untuk mengeksekusi para pelaku selingkuh, sebab menggunakan tangan kosong terlalu sulit dalam melancarkan pembunuhan, yang ada malah akan berbalik mencelakai diri sendiri, oleh karena itu pembunuhan ini tidak semerta-merta dilakukan oleh korban perselingukhan melainkan dapat dilakukan oleh saudara atau sepupu korban. sehingga opini akan tetap bergulir dimasayakat desa Sade sampai terjadinya pembunuhan, tentu opini yang bergulir ini secara tidak langsung menjadi pengawas agar penuntutan harga diri tersebut segara untuk dilakukan.  

 

Kelak setelah pembunuhan telah terjadi, maka dengan senang hati pelaku pembunuhan akan menyerahkan dirinya ke pihak yang berwenang, dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.   


terakhir harga diri adalah cara Anda menghargai, menyukai, atau menyayangi diri sendiri. Harga diri dapat terbentuk setelah beberapa lama dengan faktor pemicu, berbeda dari kepercayaan diri yang bersifat situasional. Harga diri atau self-esteem dapat berubah-ubah, ada kalanya rendah atau negatif, tapi juga bisa sehat atau positif.(*)

Previous Post Next Post